Pengertian Afiks, Prefiks, Sufiks, Infiks, dan konfiks

Kata yang dibentuk dari kata lain pada umumnya mengalami tambahan bentuk pada kata dasarnya. Kata seperti bertiga, ancaman, gerigi, dan berdatangan terdiri atas dasar tiga, ancam, gigi, dan datang yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk yang berwujud ber-, -an, -er, dan ber—an.

Bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata dinamakan afiks atau imbuhan. Keempat bentuk terikat di atas adalah afiks yang ditempatkan dibagian muka suatu kata dasar disebut prefiks atau awalan. Bentuk atau morfem terikat seperti ber-, meng-, peng-, dan per- adalah prefiks atau awalan.

Apabila morfem terikat ini digunakan di bagian belakang kata, maka namanya adalah sufiks atau akhiran. Morfem terikat seperti –an, -kan, dan –i adalah contoh sufiks atau akhiran.

Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuk seperti  -er- dan -el- pada gerigi dan geletar adalah infiks atau sisipan.

Gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk suatu kesatuan dinamakan konfiks. Kata berdatangan, misalnya, dibentuk dari kata dasar datang dan konfiks ber—an yang secara serentak diimbuhkan. kita harus waspada terhadap bentuk yang mirip dengan konfiks, tetapi yang bukan konfiks karena proses penggabungannya tidak secara serentak.

Kata berhalangan, misalnya, pertama-tama dibentuk dengan menambahkan sufiks –an pada halang sehingga terbentuk kata halangan. Sesudah itu barulah prefiks ber- diimbuhkan. Jadi ber—an pada berdatangan adalah konfiks karena afiks itu merupakan kesatuan-tidak ada bentuk datangan. Sebaliknya, ber—an pada berhalangan bukan konfiks karena merupakan hasil proses penggabungan prefiks ber- dengan halangan.
Read More

Analogi dan Proses Morfofonemik

Analogi
Jika pada postingan sebelumnya tentang Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2, pembentukan kata pendaratan dan pertemuan dikaitkan dengan mendarat dan bertemu, kita dapat juga menyaksikan pembentukan kata baru berdasarkan contoh yang sudah ada. Kesamaan pola pembentukan berdasarkan contoh itu dinamakan analogi.

Di dalam dunia olahraga kita mengenal paradigma bergulat-pegulat dan bertinju-petinju. Kini muncul kata pegolf, pehoki, dan pecatur yang masing-masing dibentuk berdasarkan pola pegulat dan petinju tanpa memperhitungkan ada tidaknya kata bergolf, berhoki, dan bercatur. Contoh lain yang dianalogikan adalah kata petatar, pesuluh, dan pesapa yang berdasarkan pola penyuruh-pesuruh yang sudah lama ada dalam bahasa kita.

Proses Morfofonemik
Seperti dinyatakan di atas, sebuah morfem dapat bervariasi bentuknya. Kaidah yang menentukan bentuk itu dapat diperikan sebagai proses yang berpijak pada bentuk yang dipilih sebagai lambang morfem.

Proses perubahan bentuk yang disyaratkan oleh jenis fonem atau morfem yang digabungkan dinamakan proses morfofonemik. Jadi, seperti pada contoh diatas proses perubahan meng- menjadi mem-, men-, meny-, menge-, dan me-, adalah proses morfofonemik.
Read More

Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2



Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2

Pada contoh di atas kita temukan bentuk mem- dan men- yang masing-masing diletakan pada bawa dan dapat. Baik mem- maupun men- sebenarnya mempunyai fungsi dan makna yang sama, yakni merupakan unsur yang membentuk verba aktif. Perbedaan dalam wujudnya itu ditentukan oleh fonem pertama yang mengawali kata bawa dan dapat: jika fonem pertama yang mengikutinya berupa fonem /b/, maka bentuknya adalah mem-, tetapi jika fonem pertamanya /d/ maka bentuknya adalah men-
Anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi mempunyai fungsi dan makna yang sama dinamakan alomorf. Morfem biasanya diapit oleh tanda kurung kurawal {...} . dengan demikian, mem- dan men- adalah dua alomorf dari satu morfem yang sama, yakni {meng-}. Di samping mem- dan men- masih ada alomorf
meny- (seperti pada menyingkir), meng- (seperti pada mengambil), me- (seperti pada melamar), dan menge- (seperti pada mengecat).
Di blog ini, saya memilih meng- untuk mewakili semua alomorf itu karena bentuk meng- itu terdapat di muka dasar yang diawali dengan salah satu dari keenam vokal Indonesia atau dengan konsonan /k/, /g/, /h/, /x/, sehingga meng- merupakan bentuk yang paling luas distribusinya.
Bentuk seperti duduk, darat dan temu dapat dipakai sebagai dasar untuk membentuk kata. Dari ketiga bentuk ini kita peroleh kata-kata berikut.

Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2
Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa menduduki dan mendudukan diturunkan secara bertahap dari dasar duduk, mendarat dari dasar darat, bertemu dari dasar temu, dan mempertemukan dari dasar pertemukan.
Selanjutnya, kata seperti pendudukan, pendaratan, dan pertemuan tidak dibentuk atau diturunkan dari dasar duduk, darat, dan temu, tetapi dari dasar menduduki, mendarat, dan bertemu. Dengan kata lain, kata yang diturunkan dari dasar tertentu dapat pula menjadi dasar pembentukan kata turunan yang lain. Jadi, urutan pembentuknya dapat dilihat pada bagian berikut.

Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2
Read More

Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata

Karena kata dalam bahasa Indonesia dapat dibentuk dari kata lain, ada berbagai pengertian dan istilah yang diperlukan untuk menerangkan proses pembentukan itu.

Morfem, Alomorf, dan (kata) Dasar
Dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat “dipotong-potong” menjadi bagian yang lebih kecil, yang kemudian dapat dipotong-potong lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika dipotong lagi, tidak mempunyai makna. Kata memperbesar misalnya, dapat kita potong sebagai berikut.
Mem-perbesar
Per-besar
Jika besar dipotong lagi, maka be- dan –sar masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem, per-, dan besar disebut morfem.

Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Dengan batasan itu, maka sebuah morfem dapat berupa kata (seperti besar diatas), tetapi sebuah kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih.

Contoh memperbesar di atas adalah salah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan per- serta satu morfem bebas besar.
Sebaliknya bentuk besar itu sendiri adalah satu morfem yang kebetulan juga satu kata.
Read More

Fonotaktik - BBI

Dalam bahasa lisan, kata umumnya terdiri atas rentetan bunyi: yang satu mengikuti yang lain. Bunyi-bunyi itu mewakili rangkaian fonem serta alofonnya. Rangkaian fonem itu tidak bersifat acak, tetapi mengikuti kaidah tertentu. Fonem yang satu yang dapat mengikuti fonem yang lain ditentukan berdasarkan konvensi di antara para pemakai bahasa itu sendiri. Kaidah yang mengatur penjejeran fonem dalam satu morfem dinamakan kaidah fonotaktik.

Bahasa Indonesia, misalnya, mengizinkan jejeran seperti
/-nt-/ (untuk), /-rs-/ (bersih), dan /-st-/ (pasti),
tetapi tidak mengizinkan jejeran seperti /-pk-/ dan /-pd-/. Tidak ada morfem asli dalam bahasa Indonesia yang menjejerkan fonem seperti yang dicontohkan di atas. Jadi, bentuk-bentuk seperti opkir dan kapdu terasa janggal dan memang tidak ada kata dengan jejeran fonem yang demikian dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, singkatan terutama bentuk akronim, hendaknya serasi dengan kaidah fonotaktik kita.
Read More

Gugus dan Diftong - BBI

Pengertian dasar mengenai gugus dan diftong adalah sama. Perbedaannya adalah bahwa gugus berkaitan dengan konsonan, sedangkan diftong dengan vocal. Gugus adalah gabungan dua konsonan atau lebih yang termasuk dalam satu suku kata yang sama. Jika gabungan konsonan seperti itu termasuk dalam dua suku kata, maka gabungan itu tidak dinamakan gugus.

Jadi, /kl/ dan /kr/ dalam /klinik/ dan /pokrol/ adalah gugus karena /kl/ dan /kr/ masing-masing termasuk dalam satu suku kata, yakni /kli-/ dan /-krol/.

Sebaliknya, /kl/ dan /kr/ dalam /maklum/ dan /takrif/ bukanlah gugus karena pemisahan sukunya adalah /mak-lum/ dan /tak-rif/. Gabungan /mp/ dan /rc/ juga bukan gugus dalam bahasa Indonesia karena /m/ dan /p/ serta /r/ dan /c/ selalu termasuk dalam suku kata yang berbeda-beda. Misalnya, /sam-pai/, /təm-pat/, /ar-ca/, dan /pər-ca-ya/.

Memang benar bahwa kedua pasang bunyi itu dapat berjejeran, tetapi kedua fonem pasangan itu termasuk suku kata yang berbeda seperti terlihat pada kata /tam-pak/, /tim-pa/, /ar-ca/, dan /pər-ca-ya/.

Diftong juga merupakan gabungan bunyi dalam satu suku kata, tetapi yang digabungkan adalah vokal dengan /w/ atau /y/. Jadi, /aw/ pada /kalaw/ dan /baɳaw/ (untuk kata kalau dan bangau) adalah diftong, tetapi /au/ pada /mau/ dan /bau/ (untuk kata mau dan bau) bukanlah diftong.

Fonem /aw/ pada kalau kalau dan bangau termasuk dalam satu suku kata, yakni masing-masing /ka-law/ dan /ba-ɳaw/; fonem /a/-/u/ pada kata mau dan bau masing-masing termasuk dalam dua suku kata yang berbeda, yakni /ma-u/ dan /ba-u/.
Read More

Fonem, Alofon, dan Grafem - BBI

Tiap bahasa diwujudkan oleh bunyi. Karena itu, telaah bunyi di dalam tata bahasa selalu mendasari telaah tulisan atau tata aksara yang tidak selalu dimiliki bahasa manusia. Bunyi itu disebut bunyi bahasa, diantara bunyi-bunyi itu ada yang berbeda kedengarannya dan ada yang mirip kedengarannya. Bunyi bahasa yang minimal yang membedakan bentuk dan makna kata dinamakan fonem. Dalam ilmu bahasa fonem itu ditulis diantara dua garis miring: /.../. jadi, dalam bahasa Indonesia /p/ dan /b/ adalah dua fonem karena kedua bunyi itu membedakan bentuk dan arti. Lihat contoh berikut.
Fonem, Alofon, dan Grafem buat2lisan
Fonem dalam bahasa dapat mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Fonem /p/ dalam bahasa Indonesia, misalnya dapat mempunyai dua macam lafal. Bila berada pada awal kata atau suku kata, fonem itu dilafalkan secara lepas. Pada kata /pola/, misalnya fonem /p/ itu diucapkan secara lepas untuk kemudian diikuti oleh fonem /o/. Bila berada pada akhir kata, fonem /p/ tidak secara lepas, bibir kita masih tetap rapat tertutup waktu mengucapkan  bunyi ini, misalnya /suap/, /atap/, dan /katup/.

Dengan demikian fonem /p/ dalam bahasa Indonesia mempunyai dua variasi. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti kata dinamakan alofon. Alofon dituliskan di antara dua kurung siku [...]. kalau [p] yang lepas kita tandai dengan[p] saja, sedangkan [p] yang tidak lepas kita tandai dengan [p^], maka kita dapat berkata bahwa dalam bahasa Indonesia fonem /p/ mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p^].

Perli kiranya diperhatikan perbedaan antara fonem dan grafem. Kalau kita berbicara tentang fonem, kita berbicara tentang bunyi; kalau kita berbicara tentang grafem kita berbicara tentang huruf. Grafem dituliskan diantara dua kurung sudut <...>.

Memang benar bahwa seringkali representasi untuk  tertulis kedua konsep ini sama. Misalnya untuk menyatakan benda yang dipakai untuk duduk, kita menulis kata kursi dan mengucapkannya pun /kursi/- dari segi grafem ada lima satuan, dan dari segi fonem juga ada lima satuan. Akan tetapi, hubungan satu-lawan-satu seperti itu tidak selalu kita temukan. Grafem <e>, misalnya, dapat mewakili fonem /e/ seperti pada kata sore dan fonem /ə/ seperti pada kata besar. Sebaliknya, fonem /f/ dinyatakan dengan dua huruf, yakni n dan g dua huruf itu membentuk satu grafem <ng>.
Read More

Bahasa yang baik dan benar - BBI

Jika bahasa sudah baku atau standar, baik yang ditetapkan secara resmi lewat surat putusan atau maklumat, maupun yang diterima berdasarkan kesepakatan umum dan yang wujudnya dapat kita saksikan pada praktik pengajaran bahasa kepada khalayak, maka dapat dengan lebih mudah dibuat pembedaan antara bahasa yang benar dengan yang tidak. Pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku itulah yang merupakan bahasa yang benar. Jika orang masih membedakan pendapat tentang benar tidaknya suatu bentuk bahasa, perbedaan paham itu menandakan tidak atau belum adanya bentuk baku yang mantap.

Jika dipandang dari sudut itu, kita mungkin berhadapan dengan bahasa yang semua tatarannya sudah dibakukan; atau yang sebagiannya sudah baku, sedangkan bagian yang lain masih dalam proses pembakuan; ataupun yang yang semua bagiannya belum atau tidak akan dibakukan.

Bahasa Indonesia, agaknya termasuk golongan yang kedua. Kaidah ejaan dan pembentukan istilah kita sudah distandarkan; kaidah pembentukan kata yang sudah tepat dianggap baku, tetapi pelaksanaan patokan itu dalam kehidupan sehari-hari belum mantap.

Orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apa pun jenisnya itu, dianggap telah dapat berbahasa dengan efektif. Bahasanya membuahkan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. Di atas sudah diuraikan bahwa orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup harus memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik atau tepat. Bahasa yang harus mengenai sasarannya tidak selalu perlu beragam baku.

Dalam tawar-menawar di pasar, misalnya, pemakaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan. Akan sangat ganjilah bila dalam tawar-menawar dengan tukang sayur atau tukang becak kita memakai bahasa baku seperti

Berapakah Ibu mau menjual bayam ini?
Apakah Bang becak bersedia mengantar saya ke Pasar Tanah Abang dan berapa ongkosnya?

Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang baku dan benar, tetapi tidak baik dan tidak efekif karena tidak cocok dengan situasi pemakaian kalimat-kalimat itu untuk situasi diatas, kalimat berikut akan lebih tepat.

Berapa nih, Bu, bayemnya?
Ke Pasar Tanah Abang, Bang. Berapa?

Sebaliknya, kita mungkin berbahasa yang baik, tetapi tidak benar. Frasa seperti ini hari merupakan bahasa yang baik sampai tahun 80-an di kalangan para makelar karcis bioskop, tetapi bentuk itu tidak merupakan bahasa yang benar karena letak kedua frasa dalam frasa ini terbalik.

Karena itu, anjuran agar kita “berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.
Read More

Mari Mengenal bahasa Baku dan fungsinya - BBI

Ragam bahasa orang yang berpendidikan, yakni bahasa dunia pendidikan, merupakan pokok yang sudah agak banyak ditelaah orang. Ragam itu jugalah yang kaidah-kaidahnya paling lengkap diperikan jika dibandingkan dengan ragam bahasa lain. Ragam itu tidak saja ditelaah dan diperikan, tetapi juga diajarkan di sekolah. Apa yang dahulu disebut bahasa Melayu tinggi dikenal juga sebagai bahasa sekolah. Sejarah umum perkembangan bahasa menunjukan bahwa ragam itu memperoleh gengsi dan wibawa yang tinggi karena ragam itu pula dipakai oleh orang yang berpendidikan dan kemudian dapat menjadi pemuka di berbagai bidang kehidupan yang penting. Pemuka masyarakat yang berpendidikan umumnya terlatih dalam raga sekolah itu. Ragam itulah yang dijadikan tolok bandingan bagi pemakaian bahasa  yang benar. Fungsinya sebagai tolok menghasilkan nama bahasa baku atau bahasa standar baginya.

Bahasa baku mendukung empat fungsi, tiga diantaranya bersifat pelambang atau simbolik, sedangkan yang satu lagi bersifat objektif: (1) fungsi pemersatu, (2) fungsi pemberi kekhasan, (3) fungsi pembawa kewibawaan, dan (4 fungsi sebagai kerangka acuan.

Bahasa baku memperhubungkan semua unsur penutur berbagai dialek bahasa itu. Dengan demikian, bahasa baku mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bahasa dan meningkatkan proses identifikasi penutur orang seorang dengan seluruh masyarakat itu. Bahasa Indonesia ragam tulisan yang diterbitkan agaknya dapat diberi predikat pendukung fungsi pemersatu. Bahkan banyak orang bukan saja tidak sadar akan adanya dialek (geografis) bahasa Indonesia, melainkan menginginkan juga keadaan utopia yang hanya mengenal satu ragam bahasa Indonesia untuk seluruh penutur dari ujung hingga ke ujung.

Fungsi pemberi kekhasan yang diemban oleh bahasa baku memperbedakan bahasa itu dari bahasa lain. Karena fungsi itu, bahasa baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa yang bersangkutan. Hal itu terlihat pada penutur bahasa Indonesia. Yang meragukan sebagian orang ialah apakah perasaan itu bertalian lebih erat dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional atau dengan bahasa baku. Yang jelas ialah pendapat orang banyak bahwa bahasa Indonesia berbeda dari bahasa Malaysia atau dari bahasa Melayu di Singapura dan Brunei Darussalam. Bahkan bahasa Indonesia dianggap sudah jauh berbeda dari bahasa Melayu Riau-Johor yang menjadi induknya.

Pemilikan bahasa baku membawa serta wibawa atau prestise. Fungsi pembawa wibawa bersangkutan dengan usaha orang mencapai kesederajatan dengan peradaban lain yang dikagumi lewat pemerolehan bahasa baku sendiri. Ahli bahasa dan beberapa kalangan di Indonesia pada umumnya berpendapat bahwa perkembangan bahasa Indonesia dapat dijadikan teladan bagi bangsa lain di Asia Tenggara (dan mungkin juga di Afrika) yang juga memerlukan bahasa yang modern. Di sini pun harus dikemukakan bahwa prestise itu mungkin lebih-lebih dimiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional daripada sebagai bahasa baku. Dapat juga dikatakan bahwa fungsi pembawa wibawa itu beralih dari pemilikan bahasa baku yang nyata ke pemilikan bahasa yang berpotensi menjadi bahasa baku. Walaupun begitu, menurut pengalaman, sudah dapat disaksikan di beberapa tempat bahwa penutur yang mahir berbahasa Indonesia “dengan baik dan benar” memperoleh wibawa di mata orang lain.

Bahasa baku selanjutnya berfungsi sebagai kerangka acuan bagi pemakaian bahasa dengan adanya  norma dan kaidah (yang dikodifikasi) yang jelas. Norma dan kaidah itu menjadi tolok ukurbagi betul tidaknya pemakaian bahasa orang seorang atau golongan. Dengan demikian penyimpangan dari norma dan kaidah dapat dinilai. Bahasa baku juga menjadi acuan bagi fungsi estetika bahasa yang tidak saja terbatas pada bidang susastra, tetapi juga mencakup segala jenis pemakaian bahasa yang menarik perhatian karena bentuknya yang khas, seperti di dalam permainan kata, iklan, dan tajuk berita, fungsi ini didalam bahasa Indonesia baku belum berjalan dengan baik, namun perlunya fungsi itu berkali-kali diungkapkan di dalam setiap kongres bahasa Indonesia, seminar dan simposium, serta berbagai penataran guru. Kalangan guru berkali-kali mengimbau agar disusun tata bahasa normatif yang dapat menjadi peganganatau acuan bagi guru bahasa dan pelajar.
Read More

10 kunci mendengarkan yang efektif

Kunci-kunci ini menunjukan cara-cara untuk meningkatkan ketrampilan mendengar, kenyataannya kunci-kunci ini merupakan pusat pengembangan kebiasaan mendengar secara lebih baik, yang dapat berlangsung selama hidup.


10 Kunci Mendengar yang Efektif
Pendengar Lemah
Pendengar Kuat
1
Temukan beberapa area minat
Menghilangkan mata pelajaran yang “kering”
Menggunakan peluang dengan bertanya;
“apa isinya untuk saya?”
2
Nilailah isinya, bukan penyampaiannya
Menghilangkannya jika penyampaiannya jelek
Menilai isi, melewati kesalahan-kesalahan penyampaian
3
Tahanlah semangat anda
Cenderung beragrumen
Menyembunyikan penilaian sampai paham
4
Dengarkan ide-ide
Mendengar kenyataan
Mendengarkan tema inti
5
Bersikap fleksibel
Membuat catatan intesif dengan memakai hanya satu system
Membuat catatan lebih banyak, memakai 4-5 sistem yang berbeda tergantung pembicara
6
Bekerjalah saat mendengarkan
Pura-pura memperhatikan
Bekerja keras, menunjukan keadaan tubuh yang aktif
7
Menahan gangguan
Mudah tergoda
Menghindari gangguan, toleransi pada kegiatan-kegiatan jelek, tahu cara berkonsentrasi
8
Latihlah pikiran anda
Menahan bahan yang sulit, mencari bahan yang sederhana
Menggunakan bahan yang padat untuk melatih pikiran
9
Bukalah pikiran anda
Setuju dengan informasi jika mengandung ide-ide yang terbentuk sebelumnya
Mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda sebelum membentuk pendapat
10
Tulislah dengan huruf besar tentang fakta karena berpikir lebih cepat daripada berbicara
Cenderung melamun bersama dengan pembicara yang lemah
Menantang, mengantisipasi, merangkum, menimbang bukti, mendengar apa yang tersirat
Read More