Verba Transitif dan Taktransitif -3

Verba yang tidak dapat diikuti objek kita disebut verba taktransitif misalnya duduk, bercukur, tertawa, dan membisu. Juga ungkapan atau gabungan tetap seperti menarik hati, berjalan kaki, membanting tulang, dan mencolok mata termasuk verba taktransitif.

Ada pula verba taktransitif yang diikuti nomina, tetapi nomina ini berfungsi sebagai pelengkap dan bukan objek.

Contoh :
  • Hal itu menyangkut masalah politik
  • *masalah politik disangkut hal itu
  • Kita berasaskan pancasila
  • *pancasila kita perasaskan
  • Bana menjadi penjual kacang rebus
  • Penjual kacang rebus dijadi Bana
  • Lina menyerupai tantenya
  • Tantenya diserupai Lina

Verba menyangkut, berasaskan, menjadi, dan menyerupai dalam kalimat diatas merupakan verba taktransitif karena mengungkapkan hubungan antara dua maujud, sedangkan peristiwa yang dinyatakannya hanya diperikan dari sudut hal itu, kita, bana, dan Lina.

Maujud yang kedua tidak dapat menjadi titik tolak pemerian peristiwa yang sama dengan bentuk verba transitif. Maujud yang kedua itu-masalah politik, Pancasila, penjual kacang rebus, dan tantenya-adalah pelengkap.

Sebagian dari verba taktransitif ada pula yang pelengkapnya manasuka.
Contoh :

  • Botol itu berisi tuak
  • Botol itu berisi
  • Sekarang dia berjualan nasi
  • Sekarang dia berjualan

Keanggotaan Ganda

Ada kata yang termasuk dalam dua kelas kata yang berbeda. Kata seperti cangkul, gunting, dan jalan dapat berperilaku sebagai verba atau nomina. Perhatikan contoh berikut.

  • Kami perlu cangkul.
  • Ladang itu belum kami cangkul.
  • Kamu simpan dimana gunting itu?
  • Ayo kita gunting pita itu.
  • Dia berjualan di pinggir jalan
  • Jalanlah cepat-cepat!

Kata yang termasuk ke dalam dua kelas kata atau lebih disebut kata yang memiliki keanggotaan ganda.
Read More

Verba Transitif dan Taktransitif -2

  • Dia mengirimi Herlina bunga
  • Herlina dikiriminya bunga
  • *bunga dikiriminya Herlina

Dalam tatabahasa tradisional, yang umumnya mengikuti tradisi bahasa barat, dua nomina yang dibelakang verba itu disebut objek langsung dan objek taklangsung. Mengingat adanya peran sufiks yang dominan dalam bahasa kita, maka nomina yang langsung berada di belakang verba dan yang dalam kalimat pasif bisa berfungsi sebagai subjek dinamakan objek, sedangkan nomina yang lain lain di belakang verba dinamakan pelengkap.

Dari contoh diatas tampaklah bahwa yang dianggap objek adalah Herlina, sedangkan pelengkapnya adalah bunga.

Pelengkap tidak harus berupa nomina. Dalam kalimat Udaranya menjadi panas, kata panas adalah pelengkap yang wajib hadir. Ada pula pelengkap yang tidak wajib hadir. Dalam kalimat Mereka berjualan sayur di pasar, kata sayur adalah pelengkap. Kata ini dapat dihilangkan sehingga terbentuklah kalimat mereka berjualan di pasar.

Verba transitif yang mengungkapkan hubungan antara tiga maujud, seperti mengirim-mengirimi-mengirimkan, memberi-memberikan , menugas-menugaskan disebut verba dwitransitif atau bitransitif. Verba transitif yang mengungkapkan hubungan antara tiga maujud lain disebut verba ekatransitif atau monotransitif.

Objek verba transitif kadang-kadang bias tidak hadir. Verba seperti membaca bisa dipakai dalam kalimat Dia sedang membaca buku atau Dia sedang membaca. Verba transitif yang objeknya manasuka seperti ini dinamakan verba semitransitif.

Baca artikel selanjutnya
Read More

Verba Transitif dan Taktransitif

Istilah transitif dan taktransitif berkaitan dengan verba (kata kerja) dan nomina (kata benda) yang mengiringinya. Verba transitif menyatakan peristiwa yang melibatkan dua maujud atau entitas: manusia, binatang, atau hal yang dapat menjadi titik tolak untuk memerikan peristiwa itu, baik dengan menggunakan verba aktif maupun verba pasif. Dari segi makna, kedua maujud itu berbeda perannya dalam peristiwa itu: maujud yang satu adalah “sumber” (pelaku, peneral, pengalam, penyebab) peristiwa tersebut, sedangkankan maujud yang lain adalah yang “dikenai langsung” oleh peristiwa itu.

Dalam konstruksi aktif, maujud yang kedua itu diungkapkan oleh objek, sedangkan (kelompok) kata yang menyatakan maujud yang pertama menjadi titik tolak pemerian peristiwa atau subjek. Namun, dalam konstruksi pasif (kelompok) kata yang mengungkapkan maujud yang kedua itulah yang menjadi subjek . perhatikanlah contoh berikut.

  • Pakar itu menemukan suatu obat baru.
  • Suatu obat baru ditemukan oleh pakar itu.

Peristiwa yang diungkapkan oleh kedua kalimat itu yang melibatkan maujud pakar itu dan suatu obat baru, yang masing-masing merupakan maujud yang menjadi “sumber” peristiwa dan maujud yang dikenai secara langsung oleh peristiwa itu. Verba yang mengenai oposisi aktif-pasif (seperti menemukan-ditemukan) adalah verba transitif. Sebaliknya, verba yang tidak mengenal oposisi aktif-pasif merupakan verba taktransitif.

Sebagian verba transitif mengungkapkan hubungan antara tiga maujud. Dalam bentuk kalimat aktif, satu maujud berada di muka verba dan dua lainnya di belakang verba. Kategori sintaksis dari ketiga maujud ini adalah nomina.
Contoh :

  • Dia mengirimi herlina bunga
  • Herlina dikiriminya bunga
  • *bunga dikiriminya herlina

Read More

Pengertian Afiks Homofon

Afiks homofon adalah afiks yang wujud bunyinya sama tetapi merupakan dua morfem, atau lebih, yang berbeda. Prefiks seperti se- pada setiba, seratus, dan sebesar, misalnya, merupakan tiga morfem terikat yang berbeda karena memiliki makna yang berlainan, yaitu se- pada setiba berarti ‘setelah’, pada seratus berarti ‘satu’, dan pada sebesar berarti ‘sama…dengan.’

Demikian pula halnya dengan konfiks ke—an yang merupakan afiks homofon pada kata seperti kehujanan, kekecilan, dan kerajaan karena ke—an pada kehujanan membentuk verba yang berarti ‘kena hujan’, ke—an pada kekecilan membentuk adjektiva yang berarti ‘terlalu kecil’, dan ke—an pada kerajaan membentuk nomina yang berarti ‘daerah kekuasaan raja.’

Afiks homofon itu terlihat pula pada prefiks ter- pada tertulis dan terkecil. Prefiks itu merupakan prefiks homofon karena ter- pada tertulis menyatakan makna ‘sudah di…’, sedangkan ter- pada terkecil menyatakan makna 'paling'.
Read More

Pengertian Afiks, Prefiks, Sufiks, Infiks, dan konfiks

Kata yang dibentuk dari kata lain pada umumnya mengalami tambahan bentuk pada kata dasarnya. Kata seperti bertiga, ancaman, gerigi, dan berdatangan terdiri atas dasar tiga, ancam, gigi, dan datang yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk yang berwujud ber-, -an, -er, dan ber—an.

Bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata dinamakan afiks atau imbuhan. Keempat bentuk terikat di atas adalah afiks yang ditempatkan dibagian muka suatu kata dasar disebut prefiks atau awalan. Bentuk atau morfem terikat seperti ber-, meng-, peng-, dan per- adalah prefiks atau awalan.

Apabila morfem terikat ini digunakan di bagian belakang kata, maka namanya adalah sufiks atau akhiran. Morfem terikat seperti –an, -kan, dan –i adalah contoh sufiks atau akhiran.

Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuk seperti  -er- dan -el- pada gerigi dan geletar adalah infiks atau sisipan.

Gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk suatu kesatuan dinamakan konfiks. Kata berdatangan, misalnya, dibentuk dari kata dasar datang dan konfiks ber—an yang secara serentak diimbuhkan. kita harus waspada terhadap bentuk yang mirip dengan konfiks, tetapi yang bukan konfiks karena proses penggabungannya tidak secara serentak.

Kata berhalangan, misalnya, pertama-tama dibentuk dengan menambahkan sufiks –an pada halang sehingga terbentuk kata halangan. Sesudah itu barulah prefiks ber- diimbuhkan. Jadi ber—an pada berdatangan adalah konfiks karena afiks itu merupakan kesatuan-tidak ada bentuk datangan. Sebaliknya, ber—an pada berhalangan bukan konfiks karena merupakan hasil proses penggabungan prefiks ber- dengan halangan.
Read More

Analogi dan Proses Morfofonemik

Analogi
Jika pada postingan sebelumnya tentang Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2, pembentukan kata pendaratan dan pertemuan dikaitkan dengan mendarat dan bertemu, kita dapat juga menyaksikan pembentukan kata baru berdasarkan contoh yang sudah ada. Kesamaan pola pembentukan berdasarkan contoh itu dinamakan analogi.

Di dalam dunia olahraga kita mengenal paradigma bergulat-pegulat dan bertinju-petinju. Kini muncul kata pegolf, pehoki, dan pecatur yang masing-masing dibentuk berdasarkan pola pegulat dan petinju tanpa memperhitungkan ada tidaknya kata bergolf, berhoki, dan bercatur. Contoh lain yang dianalogikan adalah kata petatar, pesuluh, dan pesapa yang berdasarkan pola penyuruh-pesuruh yang sudah lama ada dalam bahasa kita.

Proses Morfofonemik
Seperti dinyatakan di atas, sebuah morfem dapat bervariasi bentuknya. Kaidah yang menentukan bentuk itu dapat diperikan sebagai proses yang berpijak pada bentuk yang dipilih sebagai lambang morfem.

Proses perubahan bentuk yang disyaratkan oleh jenis fonem atau morfem yang digabungkan dinamakan proses morfofonemik. Jadi, seperti pada contoh diatas proses perubahan meng- menjadi mem-, men-, meny-, menge-, dan me-, adalah proses morfofonemik.
Read More

Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2



Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2

Pada contoh di atas kita temukan bentuk mem- dan men- yang masing-masing diletakan pada bawa dan dapat. Baik mem- maupun men- sebenarnya mempunyai fungsi dan makna yang sama, yakni merupakan unsur yang membentuk verba aktif. Perbedaan dalam wujudnya itu ditentukan oleh fonem pertama yang mengawali kata bawa dan dapat: jika fonem pertama yang mengikutinya berupa fonem /b/, maka bentuknya adalah mem-, tetapi jika fonem pertamanya /d/ maka bentuknya adalah men-
Anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi mempunyai fungsi dan makna yang sama dinamakan alomorf. Morfem biasanya diapit oleh tanda kurung kurawal {...} . dengan demikian, mem- dan men- adalah dua alomorf dari satu morfem yang sama, yakni {meng-}. Di samping mem- dan men- masih ada alomorf
meny- (seperti pada menyingkir), meng- (seperti pada mengambil), me- (seperti pada melamar), dan menge- (seperti pada mengecat).
Di blog ini, saya memilih meng- untuk mewakili semua alomorf itu karena bentuk meng- itu terdapat di muka dasar yang diawali dengan salah satu dari keenam vokal Indonesia atau dengan konsonan /k/, /g/, /h/, /x/, sehingga meng- merupakan bentuk yang paling luas distribusinya.
Bentuk seperti duduk, darat dan temu dapat dipakai sebagai dasar untuk membentuk kata. Dari ketiga bentuk ini kita peroleh kata-kata berikut.

Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2
Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa menduduki dan mendudukan diturunkan secara bertahap dari dasar duduk, mendarat dari dasar darat, bertemu dari dasar temu, dan mempertemukan dari dasar pertemukan.
Selanjutnya, kata seperti pendudukan, pendaratan, dan pertemuan tidak dibentuk atau diturunkan dari dasar duduk, darat, dan temu, tetapi dari dasar menduduki, mendarat, dan bertemu. Dengan kata lain, kata yang diturunkan dari dasar tertentu dapat pula menjadi dasar pembentukan kata turunan yang lain. Jadi, urutan pembentuknya dapat dilihat pada bagian berikut.

Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata - 2
Read More

Beberapa Pengertian mengenai pembentukan kata

Karena kata dalam bahasa Indonesia dapat dibentuk dari kata lain, ada berbagai pengertian dan istilah yang diperlukan untuk menerangkan proses pembentukan itu.

Morfem, Alomorf, dan (kata) Dasar
Dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat “dipotong-potong” menjadi bagian yang lebih kecil, yang kemudian dapat dipotong-potong lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika dipotong lagi, tidak mempunyai makna. Kata memperbesar misalnya, dapat kita potong sebagai berikut.
Mem-perbesar
Per-besar
Jika besar dipotong lagi, maka be- dan –sar masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem, per-, dan besar disebut morfem.

Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Dengan batasan itu, maka sebuah morfem dapat berupa kata (seperti besar diatas), tetapi sebuah kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih.

Contoh memperbesar di atas adalah salah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan per- serta satu morfem bebas besar.
Sebaliknya bentuk besar itu sendiri adalah satu morfem yang kebetulan juga satu kata.
Read More

Fonotaktik - BBI

Dalam bahasa lisan, kata umumnya terdiri atas rentetan bunyi: yang satu mengikuti yang lain. Bunyi-bunyi itu mewakili rangkaian fonem serta alofonnya. Rangkaian fonem itu tidak bersifat acak, tetapi mengikuti kaidah tertentu. Fonem yang satu yang dapat mengikuti fonem yang lain ditentukan berdasarkan konvensi di antara para pemakai bahasa itu sendiri. Kaidah yang mengatur penjejeran fonem dalam satu morfem dinamakan kaidah fonotaktik.

Bahasa Indonesia, misalnya, mengizinkan jejeran seperti
/-nt-/ (untuk), /-rs-/ (bersih), dan /-st-/ (pasti),
tetapi tidak mengizinkan jejeran seperti /-pk-/ dan /-pd-/. Tidak ada morfem asli dalam bahasa Indonesia yang menjejerkan fonem seperti yang dicontohkan di atas. Jadi, bentuk-bentuk seperti opkir dan kapdu terasa janggal dan memang tidak ada kata dengan jejeran fonem yang demikian dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, singkatan terutama bentuk akronim, hendaknya serasi dengan kaidah fonotaktik kita.
Read More

Gugus dan Diftong - BBI

Pengertian dasar mengenai gugus dan diftong adalah sama. Perbedaannya adalah bahwa gugus berkaitan dengan konsonan, sedangkan diftong dengan vocal. Gugus adalah gabungan dua konsonan atau lebih yang termasuk dalam satu suku kata yang sama. Jika gabungan konsonan seperti itu termasuk dalam dua suku kata, maka gabungan itu tidak dinamakan gugus.

Jadi, /kl/ dan /kr/ dalam /klinik/ dan /pokrol/ adalah gugus karena /kl/ dan /kr/ masing-masing termasuk dalam satu suku kata, yakni /kli-/ dan /-krol/.

Sebaliknya, /kl/ dan /kr/ dalam /maklum/ dan /takrif/ bukanlah gugus karena pemisahan sukunya adalah /mak-lum/ dan /tak-rif/. Gabungan /mp/ dan /rc/ juga bukan gugus dalam bahasa Indonesia karena /m/ dan /p/ serta /r/ dan /c/ selalu termasuk dalam suku kata yang berbeda-beda. Misalnya, /sam-pai/, /təm-pat/, /ar-ca/, dan /pər-ca-ya/.

Memang benar bahwa kedua pasang bunyi itu dapat berjejeran, tetapi kedua fonem pasangan itu termasuk suku kata yang berbeda seperti terlihat pada kata /tam-pak/, /tim-pa/, /ar-ca/, dan /pər-ca-ya/.

Diftong juga merupakan gabungan bunyi dalam satu suku kata, tetapi yang digabungkan adalah vokal dengan /w/ atau /y/. Jadi, /aw/ pada /kalaw/ dan /baɳaw/ (untuk kata kalau dan bangau) adalah diftong, tetapi /au/ pada /mau/ dan /bau/ (untuk kata mau dan bau) bukanlah diftong.

Fonem /aw/ pada kalau kalau dan bangau termasuk dalam satu suku kata, yakni masing-masing /ka-law/ dan /ba-ɳaw/; fonem /a/-/u/ pada kata mau dan bau masing-masing termasuk dalam dua suku kata yang berbeda, yakni /ma-u/ dan /ba-u/.
Read More